Follow by Email

Senin, 20 Februari 2012

Untuk suamiku

Suami ku yang ku sayangi..


Catatan ini  ku tulis dengan hati yang terus menerus berdoa agar kau dan aku mampu mengatasi apa pun halangan dalam perjalanan kita mendapat keridhaan Allah. Hingga kini aku terus yakin jika kita mencari kebaikan, insya-Allah, Allah akan memberikannya.


Terlebih dahulu ingin aku nyatakan bahwa apa pun pergolakan dan ujian yang telah berlaku sepanjang kita berumah tangga, aku tetap menghormati mu. Walaupun ada masanya sikap dan kata-kataku terlanjur kasar, itu bukanlah krna aku sudah tidak menghormatimu apa lagi membencimu… tetapi semua itu karena terlalu sayang. Aku tidak mau kehilangan dirimu sebagai seorang suami seperti mana anak-anak kita juga tidak mau kehilangan kasih-sayang seorang ayah.


Maafkan aku. Akulah yang lebih banyak bersalah dan tidak bijak menghadapi ujian rumah tangga ini. Sesungguhnya sejak dari dulu hingga sekarang aku menagih pimpinan dan bimbinganmu. Pimpinlah aku untuk menjadi isteri yang sholehah dan ibu yang baik kepada anak-anak kita. Aku tidak mau berpisah dengan semua kesayangan ku ini. Oleh sebab itu aku merayu agar aku terus disayangi, dilindungi, dipercayai dan dipimpin untuk menjadi wanita yang benar-benar menjadi penyejuk hidup seorang suami dan anak-anak.


Kebahagiaan kita sekeluarga berada di tangan mu. Dikaulah yang menjadi pemandu dan nakhoda rumah tangga ini. Aku tahu tugas dan amanah ini sangat berat. Ia membutuhkan keikhlasan, keimanan dan kejujuran yang tinggi daripada mu. Aku sadar apa yang akan ditanyakan Allah di Hari Akhirat kelak kepada seorang suami sebagai pemimpin jauh lebih berat dan sukar dijawab dibanding pertanyaan Allah kepada seorang isteri. Aku tahu tangung jawab mu sangat berat. Jadi aku senantiasa sedia dan setia berada di sisi mu untuk sama-sama mengarungi kesulitan ini.

Marilah sama-sama kita insafi bahwa hakikatnya umur kita kian bertambah, upaya dan tenaga kita semakin kurang, tetapi perjalanan kita masih jauh dan beban kita semakin berat. Amanah yang ada pun belum selesai kita tunaikan, apa lagi untuk menambah beban yang baru. Aku bimbang… kita berdua akan pecundang.


Oleh sebab itulah aku sering mengingatkan diriku dan dirimu, marilah kita kembali menilai peranan dan tanggung jawab kita masing-masing. Aku sebagai seorang isteri dan kau sebagai seorang suami… Marilah kita sama-sama bermuhasabah, apakah kita telah melaksanakan amanah yang kita janjikan di hadapan Allah ketika kita mulai menikah dahulu?


Pernikahan disamakan dengan mendirikan masjid. Begitu sucinya ikatan perkawinan dalam Islam. Ia bukan dibuat hanya krn untuk melepaskan hawa nafsu semata-mata. Jika itulah saja niat kita nikah, maka apakah yang membedakan manusia dengan hewan? Tetapi sebaliknya, Islam meletakkan hubungan sah antara suami dan isteri sebagai suatu yang sangat tinggi dan suci.


Ia bukan saja penyatuan fisik, tetapi juga penyatuan fikiran, perasaan dan jiwa untuk sama-sama berbakti kepada Allah. Rumah tangga hakikatnya adalah sebuah masjid… Di dalam masjid orang shalat, berzikir, membaca Al Quran, mendengar ta'lim dan ibadah lainnya.


Aku rindukan semua itu. Tetapi kerinduan itu tidak akan kesampaian tanpa bimbingan darimu. Aku lemah wahai suami ku. Pimpinlah aku untuk mendapat kasih sayang Allah melalui aliran kasih sayangmu. Engkaulah harapan aku dan anak-anak. Kami hakikatnya telah diserahkan oleh Allah sebagai amanah kepada mu untuk disayangi di dunia dan di akhirat. Janganlah disia-siakan amanah ini. Akan buruk jadinya kepada kami dan kepada mu jua. Relakah engkau melihat kami terombang-ambing di dunia ini tanpa pimpinan? Dan di akhirat terhempas ke neraka yang penuh siksaan.


Di antara kita ada Allah. DIA-lah zat yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Adil. Manusia tidak akan dapat mengawal dan memantau manusia lain setiap masa dan ketika. Kini aku pasrah kepada Allah. Aku lelah dan kalah untuk meneliti dan memeriksa di seluruh penjuru. Aku tidak dapat mengawal hati mu dan kau juga tidak dapat mengawal hatiku.


Hati kita berdua, Allahlah yang menjadi pengawasnya. Menyadari hakikat ini, aku kini hanya fokus untuk memperbaiki diri. Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Allah dan memperbaiki hubunganku dengan sesama manusia. Aku yakin Allah tidak akan mengecewakanku. Dan aku juga yakin Allah akan terus memberi kebaikan-Nya kepadaku melalui dirimu.


Marilah sama-sama kita perbaiki diri kita atas keyakinan rumah tangga ini perlu diselamatkan. Jika benar itu masih menjadi harapan dan keyakinan kita, insya-Allah, pasti Allah akan tunjukkan jalan-jalan-Nya. Dalam hidup ini kita tidak bisa mendapatkan semua perkara dalam satu waktu. Bila kita mendapat sesuatu, pasti pada waktu yang sama kita akan kehilangan sesuatu yang lain. Jadi marilah sama-sama kita pastikan apa yang kita dapat lebih berharga dan lebih baik berbanding apa yang kita terpaksa lepaskan.



Oleh itu jika kita ingin mendapat rumah tangga yang bahagia, kita harus belajar ‘melepaskan’ perkara-perkara lain. Rumah tangga kita adalah keutamaan. Ia amanah Allah, harapan kita dan anak-anak kita. Sebaliknya, segala kesukaan atau keseronokan kita yang lain mungkin terpaksa kita korbankan demi membina kebahagiaan ini.Inilah pengorbanan.


Tanpa pengorbanan tidak akan ada kebahagiaan. Kita akan rela dan tega berkorban jika kita benar-benar inginkan rumah tangga ini bahagia. Jika tidak, kita terpaksa mengorbankan rumah tangga ini… Apakah ini berlebihan? Tidakkah ini seperti kata pepatah, yang dikejar tak dapat, yang dikandung berceceran? Atau mendengar guruh di langit, air tempayan dicurahkan?


Suami ku,


Tipuan dunia dan godaan nafsu ini sangat membinasakan. Syaitan senantiasa menghiasi bibit dosa-dosa dengan segala keindahan dan kecantikan. Sekali kita terjerumus, susah untuk bebas kembali. Selama yang diburu tidak tercapai, selama itulah kita lelah mengejarnya. Tetapi setelah kita mendapat, ada yang lain pula datang menggoda. Apa yang ada jarang disyukuri, apa yang tiada itulah yang kita risaukan. Kita akan lesu karena asyik memburu.

Mengejar nafsu itu bagai mengejar bayang-bayang. Dilihat ada tetapi apabila digenggam ia hilang… di ujung pencarian itu pasti ada lesu dan jemu. Kehendak nafsu tidak ada batas dan tidak pernah puas. Padahal kematian itu bisa datang tiba-tiba. Relakah kita tertipu mengejar fatamorgana hanya karena dari jauh ia kelihatan bagaikan air yang tergenang?


Aku mengingatkan diri ku dan diri mu karena sayang. Aku selalu bertanya pada diri sendiri, relakah aku mengorbankan rumah tangga ini hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti? Aku terpaksa melepaskan salah satunya. Dan insya-Allah, buat selamanya aku lebih sanggup melepaskan apa dan siapa saja, tapi tidak dengan rumah tanggaku keluargaku .


Dan sekalipun dalam perkawinan yang paling bermasalah, penawar yang mujarab adalah kebenaran. Menyatakan kebenaran kepada pasangan adalah kaidah terbaik untuk membuktikan cinta adalah lebih utama daripada suatu kedustaan!


Mohon direnungkan dulu. Pasangan yang bahagia bukanlah tidak pernah membuat kekhilafan. Tetapi mereka tetap bahagia karena mereka senantiasa belajar mengakui kekhilafan itu dan belajar darinya… dan akhirnya melupakannya! Itulah aku kini. Ku akui kekhilafan ku dan aku sedang memperbaikinya dan aku ingin melupakannya…


Suami ku, aku masih menaruh harapan. Insya-Allah,kalu kau masih sudi membantu aku untuk itu! Aamiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar